Description
Korban Banjir di NTT Butuh Makanan
BANJARMASIN, KOMPAS — Banjir akibat meluapnya Sungai Martapura melanda sejumlah kecamatan di Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan. Sampai dengan Rabu (28/1), banjir yang terjadi sejak Senin lalu itu membuat lebih dari 1.000 rumah warga terendam.
”Ada enam kecamatan yang terendam sejak dua hari lalu, dengan ketinggian air mencapai 1 meter,” kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banjar Sunarto. Enam kecamatan itu adalah Martapura Kota, Astambul, Martapura Timur, Martapura Barat, Gambut, dan Cintapuri Darussalam.
Sunarto mengatakan, Sungai Martapura meluap akibat tingginya curah hujan di daerah hulu sungai di Pegunungan Meratus. Sejak Senin, lebih dari 1.000 keluarga di Banjar terkena dampak banjir. Air masuk ke dalam rumah warga hingga setinggi 50 sentimeter. ”Banjir juga merendam 12 bangunan sekolah,” ujarnya.
Air terpantau masih tinggi di daerah Martapura Kota dan Astambul. Sementara di daerah lain, air yang merendam rumah warga sudah mulai surut. Meski demikian, posko-posko di setiap kecamatan sudah aktif dan siaga menghadapi banjir.
Azidin Noor, operator Radio dan Pendataan Taruna Siaga Bencana (Tagana) Kalsel, mengatakan, sejauh ini belum ada warga yang mengungsi.
Di Kalimantan Barat, empat kecamatan di Kabupaten Kapuas Hulu, hingga Rabu, masih terendam banjir. Ketinggian banjir akibat meluapnya Sungai Kapuas itu masih sekitar 1 meter.
”Kecamatan yang masih tergenang ialah Bunut Hulu, Bunut Hilir, Batang Lupar, dan Putussibau Selatan. Banjir di daerah itu sulit surut karena selain di dataran rendah, juga berada di pinggir Sungai Kapuas. Bahkan, Rabu sore ketinggian banjir cenderung meningkat,” ujar Ramadanul Hikmah, warga Kapuas Hulu,
Di Kecamatan Bunut Hulu sekitar tujuh desa terendam banjir. Daerah itu sebenarnya dekat dengan hutan. Namun, hutan sudah banyak yang gundul.
Ramadanul mengatakan, kota Putussibau juga masih banjir, tetapi sudah tidak setinggi sehari sebelumnya.
Sodik, Ketua Kelompok Pengelola Pariwisata Dusun Meliau, Desa Melemba, Kecamatan Batang Lupar, mengatakan, ketinggian air di daerah-daerah sekitar Taman Nasional Danau Sentarum yang tergolong zona penyangga saat ini semakin meningkat.
”Padahal, daerah penyangga seharusnya bisa aman dari ancaman banjir karena masih dekat kawasan hutan. Namun, dengan menurunnya fungsi ekologi hutan, daerah itu menjadi rawan banjir,” ujarnya.
Butuh tenda
Di Nusa Tenggara Timur, hampir seminggu ini korban banjir di Desa Naitae, Kecamatan Fatuleu Barat, Kabupaten Kupang, tetap memilih bertahan di lokasi pengungsian. Mereka menyebar di Gereja Efata dan sejumlah perbukitan di sekitarnya.
Seiring kondisi yang semakin tidak berdaya, pengungsi kini membutuhkan uluran bantuan tanggap darurat, terutama makanan, selimut, tenda, dan obat-obatan.
”Bencana banjir kali ini sungguh menghancurkan kehidupan warga desa kami. Hampir semua warga menjadi korban dan kini membutuhkan paket bantuan tanggap darurat untuk sekadar bertahan hidup,” kata Kepala Desa Naitae Yakob Frans Pellokila, Rabu.
”Pemerintah terkesan tidak peduli dengan bencana yang menimpa kami, padahal bencana sangat ganas. Selain merusak ratusan rumah, banjir juga menghanyutkan berbagai jenis hewan piaraan dan tanaman kebun,” kata Marthen (37), korban yang rumahnya roboh dan hanyut.
Ketua Komisi V DPRD NTT Winston Rondo bersama rombongan kemarin mengunjungi lokasi bencana. ”Hampir semua wilayah perkampungan remuk. Upaya rekonstruksi atau rehabilitasi bencana dipastikan menjadi beban yang terlampau berat jika hanya mengandalkan kemampuan Pemkab Kupang. Dibutuhkan bantuan dan dukungan pemerintah provinsi dan pusat,” katanya.
Masih di NTT, Desa Lamatutu, Kecamatan Tanjung Bunga, Kabupaten Flores Timur, terisolasi karena jembatan akses ke desa itu ambruk.
Anggota DPRD Flores Timur, Agus Payong Boli, Rabu, mengatakan, hujan deras disertai angin kencang sejak Sabtu hingga kemarin juga menyebabkan sejumlah fasilitas di desa itu rusak.
Sementara itu, Kepala Subbagian Humas Polres Flores Timur Inspektur Satu Erna Romakia mengatakan, akibat hujan dan angin kencang, satu pohon tumbang di Desa Watotika Demon Pagong sehingga mengakibatkan Yoseph Ama meninggal di lokasi kejadian. (JUM/ESA/ANS/KOR)
| Credibility: |
 |
 |
0 |
|